Jumat, 21 Oktober 2011
Selasa, 12 Juli 2011
Selasa, 05 Juli 2011
kata motivasi:sabar
Berikut kami pilihkan kata-kata motivasi sabar yang kami ambilkan dari hadits Rasulullah saw. Semoga memberikan manfaat dan memberikan inspirasi bagi kita semua.
Sabar Adalah Ciri Seorang Mukmin
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku kagum dengan ketetapan Allah ‘azza wajalla terhadap orang-orang mukmin. Jika dia mendapatkan kebaikan, dia memuji Rabbnya dan bersyukur, jika mendapatkan musibah dia memuji kepada Rabbnya dan bersabar. Orang mukmin akan diberi pahala pada setiap urusannya sampai suapan makanan yang dia angkat kepada mulut istrinya.” (HR Ahmad No 1405)
Sabar Dalam Pergaulan
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Seorang mukmin yang berbaur dengan manusia dan bersabar atas celaan mereka adalah lebih besar pahalanya dari pada orang mukmin yang tidak membaur dengan manusia dan tidak sabar atas celaan mereka.” Hajjaj menyebutkan, “Lebih baik dari pada orang mukmin yang tidak membaur dengan mereka.” (HR Ahmad No 4780)
Sabar Dalam Kesusahan
Aku pernah bersama Ibnu Umar. Tiba-tiba mantan budak wanitanya menemuinya, menceritakan kondisinya yang serba susah, serta hasratnya untuk pergi meninggalkan Madinah. Lalu Ibnu Umar menasehatinya: “Duduklah sebentar disini, aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah salah seorang diantara kalian bersabar atas kesusahan dan kesempitan hidup kecuali pada hari kiamat kelak aku menjadi pemberi syafaat (penolong) baginya.” (HR Ahmad No 5665)
Sabar Terhadap Hal Yang Dibenci
Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan. Bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan. (HR Ahmad No 2666)
Sabar Terhadap Musibah
“Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Barang siapa yang Aku hilangkan kedua kekasihnya (kedua matanya) lalu ia bersabar dan berharap pahala (dariKu) maka Aku tidak akan merelakan suatu pahala baginya kecuali syurga.” (HR Ahmad No 7280)
“Tidaklah salah seorang dari kalian ditinggal mati oleh tiga orang anaknya, lalu ia sabar dan mengharap pahala dari Allah, kecuali pasti ia akan masuk ke dalam surga.” Lalu berkatalah seorang wanita dari mereka; “Bagimana jika dua orang saja?” Rasulullah bersabda: “Meskipun dua orang.” (HR Ahmad No 8561)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang mukmin yang tertusuk duri kemudian bersabar dan mengharap pahala dari Allah, kecuali Allah akan hapuskan dosa-dosanya pada hari kiamat.” (HR Ahmad No 8851)
Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Tidak ada balasan yang sesuai disisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, jika aku mencabut nyawa orang yang dicintainya di dunia, kemudian rela dan bersabar kecuali surga.” (HR Ahmad No 9024)
Sabar Terhadap Sulitnya Keadaan
“Kota Madinah, bagi yang bersabar atas susah payah dan kerasnya alamnya, maka aku akan menjadi pemberi syafaat, -atau beliau menyebutkan; – akan menjadi saksi baginya pada hari kiamat.” (HR Ahmad No 9394)
Sabar Bertemu Musuh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh, maka jika kalian berjumpa dengan mereka hendaklah kalian bersabar.” (HR Ahmad No 10356)
Berusahalah untuk Sabar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berusaha untuk sabar maka Allah akan menjadikannya sabar, barangsiapa berusaha untuk kaya maka Allah akan mengayakannya, barangsiapa menjaga diri maka Allah akan memelihara dirinya, dan aku tidak mendapati untuk kalian rizki yang lebih lapang dari pada sabar.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sabar itu ada pada saat pertama kali terbentur musibah.” (HR Ahmad No 11868)
Mudah-mudahan, di akhirat nanti mendapatkan ucapan selamat dari para malaikat:
‘Salamun ‘alaikum bima shabartum (Keselamatan atas kalian oleh karena kesabaran kalian).’
Mari kita berusaha untuk sabar.
menjadi pribadi produktif bukan pengemis
“Sungguh, salah seorang di antara kamu mencari setumpuk kayu bakar, lalu menggendongnya di atas punggungnya, lebih baik baginya daripada meminta¬minta kepada seseorang, baik orang itu memberi maupun tidak memberi,” (HR Bukhari No 1984,1421, 2267 dan Muslim No. 1792).
Hadits ini merupakan petunjuk. Nabi Muhammad saw kepada umat Islam, baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas, agar menjadi manusia-manusia yang produktif walaupun konsekwensinya, harus siap berjuang, menempuh jalan melelahkan.
Dalam hadits lain disebutkan, ada seorang laki-laki muda datang kepada Nabi Muhammad saw untuk meminta sedekah. Melihat kegagahan lelaki muda tersebut, beliau bertanya, “Apa yang kamu miliki di rumahmu?”
Lelaki itu menjawab, “Selembar kain kasar dan satu cangkir kecil.”
Rasulullah bersabda, ”Bawa keduanya ke sini!” Lalu, Rasulullah saw melelang dua barang itu, sehingga laku dua dirham. Beliau serahkan dua dirham itu kepadanya sambil bersabda, “Belilah makanan untuk. keluargamu dengan satu dirham, dan yang satu dirham lagi belikanlah kapak, dan bawa ke sini kapak itu.”
Lelaki itu menjawab, “Selembar kain kasar dan satu cangkir kecil.”
Rasulullah bersabda, ”Bawa keduanya ke sini!” Lalu, Rasulullah saw melelang dua barang itu, sehingga laku dua dirham. Beliau serahkan dua dirham itu kepadanya sambil bersabda, “Belilah makanan untuk. keluargamu dengan satu dirham, dan yang satu dirham lagi belikanlah kapak, dan bawa ke sini kapak itu.”
Setelah lelaki itu tiba, ternyata Rasulullah telah menyiapkan gagang untuk kapak tersebut. Beliau memasangnya, lalu menyerahkannya kepada lelaki itu. Beliau bersabda, “Pergilah. Dengan kapak ini, carilah kayu bakar. Jual di pasar dan jangan datang ke sini kecuali setelah 15 hari.”
Lelaki itu pun mulai melaksanakan petunjuk Nabi Muhammad saw. Setelah 15 hari, ia mendapatkan 10 dirham sebagiannya digunakan untuk. membeli baju dan sebagiannya lagi makanan. Diceritakan, Rasulullah saw bersabda, “Ini lebih baik bagimu daripada harus meminta-minta,” (HR Abu Daud 1411 dan Ibn Majak 2195).
Kisah ini sejalan dengan arahan ajaran Islam agar para pemeluknya menjadi manusia¬manusia kuat. Rasulullah saw bersabda, “Seorang Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih Allah dari pada Mukmin yang lemah, dan pada masing¬masing terdapat kebaikan.” Lalu, Rasulullah saw menjelaskan cara membangun mental dan jiwa Mukmin yang kuat itu, dengan sabdanya, “Bersemangatlah terhadap segala hal yang bermanfaat bagimu, meminta tolonglah kepada Allah, dan jangan merasa tidak mampu. Jika engkau tertimpa sesuatu (musibah, kegagalan dan lain¬lain), janganlah berkata, “Kalau saja aku melakukan ini dan itu, niscaya akan jadi begini dan begitu, tapi ucapkanlah, “Allah telah mentakdirkan, dan apa yang dikehendaki-Nya, maka Dia kerjakan, sebab pernyataan, “Kalau saja” itu membuka pekerjaan bagi setan,” (HR Muslim No 4923).
Hadits Nabi Muhammad saw yang menjadi pokok pembahasan kita memberi pelajaran lain yang sangat menarik. Pertama, Nabi Muhammad saw mengajak umatnya, baik dalam kapasitas pribadi maupun kolektif agar mengikuti dan berpegang kepada yang pasti, menjaga harga diri, menjadi manusia yang berdaya, berkemampuan dan produktif walaupun untuk ini seorang manusia harus memanggul kapak, pergi ke mencari kayu bakar, memanggulnya, membawanya ke pasar, dan menjualnya untuk mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan dirinya. Menurut beliau saw, seseorang yang mempunyai mental seperti ini adalah manusia yang khair (baik, atau bahkan lebih baik). Dalam bahasa kekinian, hal ini lebih bergengsi, bermartabat dan lebih terhormat daripada harus meminta-minta dan mengemis-ngemis.
Kedua, Rasulullah saw mengajak umatnya untuk berpikir logis dan realistis. Ajakan beliau dengan logika yang langsung menyinggung jati diri dan harga diri seorang manusia, “Itu lebih baik daripada meminta-minta, baik dipenuhi permintaannya, atau tidak dipenuhi permintaannya”.
Sungguh, sebuah sentuhan nurani, kemanusiaan dan harga diri yang sangat mendalam. Maksudnya tentu agar manusia tidak mudah menyerah kepada keadaan yang menyulitkannya, lalu mendorongnya untuk meminta¬minta.
Sungguh, sebuah sentuhan nurani, kemanusiaan dan harga diri yang sangat mendalam. Maksudnya tentu agar manusia tidak mudah menyerah kepada keadaan yang menyulitkannya, lalu mendorongnya untuk meminta¬minta.
Ini cara yang ditempuh oleh Rasulullah saw dengan men-tarhib (menakut-nakuti) akibat buruk di dunia agar umatnya tidak berprofesi sebagai pengemis. Bentuk tarhib yang lebih mengerikan yang bersifat ukhrawi, yaitu sabda Rasulullah saw, “Meminta-minta terus menerus ada pada salah seorang di antara kamu, sehingga ia akan berjumpa Allah sementara wajahnya sudah tidak ada dagingnya sama sekali,” (HR Muttafaqun ‘alaihi Bukhari 1416 dan Muslim 1788).
Sedangkan dari sisi hasil meminta-mintanya, Rasulullah menjelaskan, hasil meminta-minta nilainya adalah suht, yaitu sesuatu yang haram yang tidak membawa keberkahan.
Rasulullah saw bersabda,
” … Adapun bentuk-bentuk meminta-minta yang lain adalah suht (sesuatu yang haram yang tidak membawa keberkahan) yang dimakan oleh pelakunya,” (HR Muslim 1794).
Rasulullah saw bersabda,
” … Adapun bentuk-bentuk meminta-minta yang lain adalah suht (sesuatu yang haram yang tidak membawa keberkahan) yang dimakan oleh pelakunya,” (HR Muslim 1794).
Pengarahan Rasulullah saw bahkan lebih jauh dari sekadar melarang umatnya untuk meminta-minta. Lebih dari itu, beliau mengarahkan agar umatnya menjadi pihak yang memberi dan bukan pihak yang meminta.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar, Rasulullah saw sedang berada di atas minbar, dan menyebut-nyebut sedekah dan mendorong manusia untuk menjaga harga diri dari meminta¬minta. Beliau bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah yang memberi, dan tangan di bawah meminta-minta,” (HR Hadits Muslim 1777).
Namun demikian, dalam beberapa kondisi, Islam membenarkan seseorang meminta bantuan kepada saudaranya yang lain. Di antara kondisi itu sebagaimana diriwayatkan dari Qabishah bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya meminta-minta itu tidak halal kecuali bagi salah satu dari tiga golongan. Yaitu, (pertama) seseorang yang menangggung beban diyat (denda atas pembunuhan) orang lain, maka dia dihalalkan meminta-minta sehingga ia mendapatkannya, kemudian menahan diri dari meminta.
(Kedua), seseorang yang terkena bencana dan menghancurkan hartanya, maka dia dihalalkan meminta-minta sehingga mendapatkan kecukupan untuk kehidupannya.
(Ketiga), seseorang yang jatuh miskin, sehingga kondisinya disaksikan tiga orang dari kaumnya yang berakal sehat yang menyatakan, seseorang ini memang telah jatuh miskin, maka dia dihalalkan meminta-minta sehingga mendapatkan kecukupan untuk kehidupannya. Adapun meminta-minta pada kasus selain ketiganya, maka yang didapatkannya adalah suht, yaitu sesuatu yang haram yang tidak membawa keberkahan yang dimakan oleh pelakunya,” (HR Muslim 1794).
(Kedua), seseorang yang terkena bencana dan menghancurkan hartanya, maka dia dihalalkan meminta-minta sehingga mendapatkan kecukupan untuk kehidupannya.
(Ketiga), seseorang yang jatuh miskin, sehingga kondisinya disaksikan tiga orang dari kaumnya yang berakal sehat yang menyatakan, seseorang ini memang telah jatuh miskin, maka dia dihalalkan meminta-minta sehingga mendapatkan kecukupan untuk kehidupannya. Adapun meminta-minta pada kasus selain ketiganya, maka yang didapatkannya adalah suht, yaitu sesuatu yang haram yang tidak membawa keberkahan yang dimakan oleh pelakunya,” (HR Muslim 1794).
Inilah pandangan Islam yang dijelaskan melalui hadits-hadits Rasulullah saw tentang meminta¬minta. Semoga Allah senantiasa memberikan taufiq, hidayah, kekuatan dan kesucian diri kepada seluruh kaum Muslimin. Dengan demikian, mereka mampu menjadi manusia-manusia berdaya, produktif dan tidak meminta-minta.
Musyafa Abdurahim, Lc Dosen Ma’had AI-Hikmah Jakarta
sukses bersumber dari istiqomah
Setapak demi setapak pendaki gunung ke puncak.
Selangkah demi selangkah, para pelari marathon pun bisa melalui puluhan kilo meter.
Putaran demi putaran ban mobil Anda, ratusan kilo meter pun bisa ditempuh.
Jangan anggap sepele perubahan yang kecil atau sedikit. Jika dilakukan secara kontinyu, akan membawa perubahan besar dalam hidup Anda.
Seorang trainer (Wiwoho) pernah mengatakan Kesuksesan besar adalah hasil dari kumpulan kesuksesan-kesuksesan kecil.
Rasulullah saw, dengan indah bersabda:
Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari (langgeng atau berkesinambungan) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
Amalan-amalan yang paling disukai Allah ialah yang lestari (langgeng atau berkesinambungan) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
Lakukanlah perubahan itu, meski pun kecil, sebab tidak ada yang kecil jika kita melakukan secara terus menerus, langkah demi langkah.
Mari berubah!
Mari berubah!
Sabtu, 02 Juli 2011
Kunci keberhasilan
Maukah Anda mengetahui sebuah kunci keberhasilan? Jika Anda sudah memiliki kunci keberhasilan ini, maka Anda dijamin akan berhasil.
Kunci keberhasilan ini sebenarnya nampak sederhana, tetapi tidak semua orang yang mampu memilikinya. Tentu saja, ada harga yang harus Anda bayar untuk mendapatkan kunci keberhasilan ini. Anda mau membayarnya?
Kunci keberhasilan itu adalah sabar.
Dan ketahuilah bahwa di dalam kesabaran terhadap hal yang engkau benci terdapat banyak kebaikan. Bahwa pertolongan itu (datang) setelah kesabaran, dan kelapangan itu (datang) setelah kesempitan serta bahwa kemudahan itu (datang) setelah kesulitan.” (HR Ahmad No 2666)
Cara Memiliki Kunci Keberhasilan
Saat berbicara tentang sabar, seringkali ada orang yang berkata: “Sabar itu tidak mudah!”
Siapa bilang mudah? Namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Kenapa harus mengatakan itu, semua orang juga tahu. Daripada Anda mengatakan “Sabar itu tidak mudah!” atau “Sabar Itu Sulit”, akan lebih baik jika Anda mengatakan dengan lantang dan penuh keyakinan “Saya akan berusaha sabar, Insya Allah saya bisa!”.
Ini jauh lebih baik daripada fokus akan sulitnya bersabar. Katakanlah bahwa Anda berusaha untuk sabar, maka kesabaran akan menjadi milik Anda, artinya kunci keberhasilan akan menjadi milik Anda. Tidak ada manfaatnya jika Anda terus mengatakan kalau sabar itu sulit, tidak mudah, tidak semudah membalikan telapak tangan, dan sebagainya. Justru akan menjauhkan sabar dari diri Anda karena Anda memiliki “pembenaran” untuk tidak sabar. Mengatakan kalimat-kalimat negatif itu akan menjauhkan Anda dari kunci keberhasilan.
Berusahalah untuk sabar maka Anda akan mendapatkan kesabaran itu:
Dan barangsiapa yang berusaha untuk selalu sabar, maka Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidaklah seseorang diberi sesuatu yang lebih baik dan lapang daripada kesabaran.” (HR. Tirmidzi No. 1947)
Kunci Keberhasilan Ini Tidak Berguna?
Ada ibu-ibu yang selalu mengeluh karena serba kekurangan. Saat ada yang menasihati, bersabarlah, dia menjawab
“Saya sudah bersabar, kurang apa lagi? Meskipun bersabar, tetap saja susah.”
Jelas, dia kurang sabar. Mungkin si ibu ini tidak memahami apa itu yang dikatakan sabar, sehingga dia merasa sudah sabar padahal belum. Seolah tidak berfungsi atau tidak memberikan manfaat.
Jika Anda membuka pintu mobil dengan kunci motor, maka tidak akan pernah berhasil. Yang Anda kira kunci mobil, padahal kunci motor. Jelas saja, tidak akan pernah berhasil meski Anda berusaha membuka mobil selama 1 tahun pun. Begitu juga, jika Anda berharap untuk berhasil dengan sabar, padahal bukan sebuah kesabaran, maka Anda tidak akan pernah berhasil.
Bentuk-Bentuk Kesabaran
Tidak Mengeluh
Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma’ruf berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb berkata; telah mengabarkan kepadaku ‘Amru dari Sa’id bin Abu Sa’id Al Khudri dari Bapaknya, bahwasanya ia mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebutuhannya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda kepadanya: “Bersabarlah wahai Abu Sa’id, karena sesungguhnya kefakiran yang menimpa seseorang yang mencintaku, adalah lebih cepat dari banjir di atas bukit atau di atas gunung yang turun ke bawah.” (HR Ahmad No 10952)
Tidak Lari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh, maka jika kalian berjumpa dengan mereka hendaklah kalian bersabar.” (HR Ahmad No 10356)
Hadits lain mengatakan:
“Jangan sampai kalian bergabung dengan pasukan yang apabila bertemu musuh mereka lari, dan jika mendapat ghanimah mereka mencuri.” (HR Ibnumajah No 2819)
Tetap Bertindak Untuk Kebaikan
“Barangsiapa menanam suatu pohon lalu dia bersabar untuk merawatnya sampai berbuah, maka segala sesuatu yang mengenai buahnya akan menjadi sebuah sedekah di sisi Allah” (HR Ahmad No 15991)
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang mu`min yang berbaur dengan orang dan bersabar atas gangguan mereka lebih besar pahalanya dari yang tidak berbaur dengan orang dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR Ahmad no 22019)
Hadits ini membantah bahwa sabar itu berarti selalu diam. Sabar bisa dalam bentuk tetap bertindak, seperti merawat pohon dan tetap bergaul.
Diam atau menahan diri bisa menjadi salah satu bentuk sabar jika memang diharuskan untuk diam atau menahan diri.Tentu saja, bentuk-bentuk kesabaran itu sangat luas, bisa Anda temukan di Al Quran dan Hadits yang tidak mungkin dibahas semuanya pada artikel yang pendek ini. Pada intinya ialah keteguhan hati dalam kebenaran. Mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi pemicu bagi kita semua untuk berlajar tentang sabar lebih jauh lagi, berusaha untuk sabar, dan akhirnya menjadi orang yang sabar. Ini adalah kunci keberhasilan dunia akhirat.
Mari Kita Berdo’a, agar kita menjadi orang-orang yang bersabar
“ALLAHUL MUSTA’AAN ALLAHUMMA SHABRAN WA ‘ALALLAHIT TUKLAAN (Allah Maha Menolong, Ya Allah berilah kesabaran padaku. Dan kepada Allahlah diserahkan segala urusan)
Mudah-mudahan Allah mengabulkan do’a kita sehingga kita menjadi orang yang sabar sebagai kunci keberhasilan di dunia dan di akhirat.
PERJUANGAN DAN KESABARAN
Hidup adalah perjuangan. Itu kata orang. Memang benar, dalam hidup akan penuh dengan perjuangan. Terutama bagi mereka yang memiliki cita-cita besar, baik cita-cita pribadi maupun cita-cita dalam dakwah. Bagi mereka yang tidak memiliki cita-cita besar, tidak akan mampu melihat bahwa hidup penuh dengan perjuangan. Yang ada di depan mereka hanyalah bagaimana mencari kesenangan belaka.
Jika Anda merasa bahwa hidup penuh tantangan, halangan, rintangan, dan ujian, artinya hidup Anda memang penuh perjuangan. Anda termasuk orang yang memiliki cita-cita yang tinggi, baik meraih pencapaian yang besar maupun melepaskan diri dari masalah besar yang menghimpit. Satu hal yang diperlukan dalam perjuangan adalah kesabaran.
Apa Itu Kesabaran?
Secara singkat, sabar bisa didefinisikan sebagai ridha, tenang, teguh, dan yakin. Sabar bukan berarti diam dan menyerah. Justru orang yang diam dan menyerah bertolak belakang dengan definisi sabar. Rasulullah saw adalah orang yang paling sabar dan selalu sabar, tetapi beliau tetap berperang, tenang saat menghadapi tekanan, dan yakin bahwa kemenangan akan dicapai.
Amru bin Usman mengatakan, bahwa sabar adalah keteguhan bersama Allah, menerima ujian dari-Nya dengan lapang dan tenang. Hal senada juga dikemukakan oleh Imam Al-Khawas, “Sabar adalah refleksi keteguhan untuk merealisasikan Al-Qur’an dan sunnah. Sehingga sabar tidak identik dengan kepasrahan dan ketidakmampuan. Rasulullah saw. memerintahkan umatnya untuk sabar ketika berjihad. Padahal jihad adalah memerangi musuh-musuh Allah, yang klimaksnya adalah menggunakan senjata (perang).” [Sumber: Dakwatuna.com]
Anda tidak akan pernah mencapai 1.000 langkah jika Anda kehilangan kesabaran di tengah jalan. Perjuangan akan memberikan hasil, dan pasti akan memberikan hasil, jika diiringi dengan kesabaran. Namun, pada kenyataanya, kesabaran sering kali melemah. Saat 100 langkah sudah berlalu, rasa letih mulai menghinggapi diri, maka kesabaran bisa saja berangsur turun. Sampai-sampai, orang yang lemah kesabarannya mengatakan bahwa sabar ada batasnya. Sabar terasa begitu sulit.
Memang benar, sabar itu berat. Bagi kebanyakan orang, sabar itu memang berat, kecuali bagi mereka yang khusyuk.
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS. Al Baqarah:45-46)
Sabar menghadapi kesulitan dan mengerjakan shalat memang berat bagi orang yang tidak khusyuk. Ayat diatas pun menjelaskan kepada kita apa makna khusyuk tersebut (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.
Kata kuncinya dikata “meyakini”. Meyakini bahwa mereka akan menemui Allah dan mereka akan kembali kepada-Nya. Keyakinan ini, akan menjadikan merekan memiliki cara pandang bahwa nilai dan harga dunia seluruhnya adalah menjadi kecil. Jika seluruh dunia saja kecil, apalagi masalah yang kita hadapi menjadi lebih kecil lagi.
Agar Kesabaran Tetap Ada
Karena itulah, selain sabar, kita pun diperintahkan meminta pertolongan melalui shalat. Shalat adalah penolong yang tidak akan hilang dan bekal yang tidak ada habisnya. Sabar adalah masalah hati, sementara shalat adalah cara agar kita terus memperbaharui hati kita. Dengan shalat, kita yang lemah ini, akan terhubungan dengan Allah Yang Mahakuat dan Mahakuasa. Jelas sudah, bahwa shalat akan menaikan kembali kesabaran kita.
Allah Bersama Orang-orang Yang Sabar
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al Baqarah:153)
Allah bersama-sama orang yang sabar, menguatkan, memantapkan, meneguhkan, mengawasi, dan menghibur mereka. Allah sebagai tempat bergantung, sehingga kita akan terlepas dari keputus-asaan saat menjalani perjuangan.
Hidup memang penuh dengan perjuangan, tetapi selama kita bersabar kita tidak perlu takut karena Allah bersama orang-orang yang sabar.
Baca juga, mungkin terkait dgn Perjuangan dan Kesabaran
Langganan:
Postingan (Atom)